Wabah Menari Tahun 1518 di Perancis: Ratusan Orang Menari Tanpa Henti Hingga Mati

supernatural freak.jpg

Wabah Menari ( Dance Epidemic/The Dancing Plague/Choreo Mania/Dancing Mania) adalah sebuah kasus menari masal yang terjadi di Strasbourg, Alsace (yang kemudian menjadi bagian dari wilayah Kekaisaran Romawi Suci) pada bulan Juli 1518. Banyak orang turun ke jalan dan menari selama berhari-hari tanpa istirahat, dan selama periode sekitar satu bulan, beberapa orang dari mereka meninggal karena serangan jantung, stroke, atau kelelahan.

wabah-menari

Wabah menari ini diduga berawal dari rasa kecewa masyarakat terhadap situasi sosial-ekonomi dan tingkah orang kaya serta pihak gereja terhadap sistem tata pemerintahan. Pada tahun-tahun tersebut bentuk pemerintahan masyarakat berada dalam kekaisaran romawi, akhir abad pertengahan. Mereka, yakni pemerintah, orang kaya, dan imam-imam serta rohaniawan gereja, sama sekali tak pernah sedikitpun memperhatikan kondisi rakyat.

Pada masa-masa sulit tersebut, di saat kepercayaan mistis terhadap hukum tuhan dan dunia yang fana dimiliki oleh hampir seluruh masyarakat, kaum rohaniawan gereja justru menunjukkan sikap tak terpuji. Para imam dan biarawati kala itu saling menodai kesucian kepercayaan seperti dengan hidup mewah, membebankan hampir semua pajak pada rakyat jelata, minum-minuman, serta lain sebagainya.

Tidak aneh jika tidak sedikit para humanis serta elit sekuler masa itu yang menentang tindakan tak terpuji gereja pada masa itu. Karena kebobrokan kehidupan pada masa itulah, Sebastian Brant mengungkapkan jika tak lama lagi akan segera datang hukuman dari tuhan.

Hukuman dari tuhan tersebut, agaknya mulai terlihat ketika rakyat jelata yang miskin dikenai pajak tinggi yang membuat mereka lebih miskin sementara pada saat itu kondisi panen banyak yang sedang gagal. Gagal panen menyebabkan kelaparan dan wabah penyakit cacar menyerang rakyat jelata. Selain itu, wabah sifilis mulai merajalela, menyerang mulai dari rakyat miskin hingga bahkan kaum rohaniwan, semakin membuktikan bahwa kaum rohaniawan ternyata tidak suci seperti yang semestinya.

Setelah itu, kota Strassbourg didera dengan ancaman invasi pemberontakan akibat ketidakpuasan terhadap sikap sok suci gereja. Hidup pada masa itu benar-benar terasa seperti neraka. Hingga pada akhirnya, sebuah kejadian mengejutkan tiba. Pada 14 Juli di tahun 1518, sebuah wabah mengerikan dan misterius menyerang kota Strassbourg.

Wabah ini dimulai di suatu tempat, di antara jalanan sempit yang penuh sesak, sejumlah dermaga, kandang, bengkel, bengkel kerja pandai besi, dan pasar malam di kota abad pertengahan Strasbourg, ketika Frau Troffea melangkah keluar rumah, lalu mulai menari. Bisa bilang tak ada musik pengiring. Dia juga tak menunjukkan tanda-tanda sukacita saat roknya mengembang di sekeliling kedua kakinya yang bergerak cepat. Tanpa menggubris kecemasan suaminya, dia terus menari sepanjang hari.

Diawali oleh tarian Frau Troffea, selanjutnya 400-an pria dan wanita tertular tarian wanita malang itu dan mulai menari terus-terusan hari demi hari, minggu demi mingu, pada musim panas yang paling menyiksa. Banyak dari orang-orang ini akhirnya meninggal karena serangan jantung, stroke, atau kelelahan.


ukiran Hendrik Hondius yang menggambarkan tiga wanita yang terkena wabah. Dia mendasarkan pada gambar asli oleh Pieter Brueghel, yang konon menyaksikan wabah berikutnya tahun 1564 di Flanders.

Dokumen sejarah, termasuk catatan dokter, khotbah Katedral, kronik lokal dan regional, dan bahkan catatan yang dikeluarkan oleh dewan kota Strasbourg, menjelaskan bahwa mereka adalah korban akibat menari. Tapi tidak diketahui mengapa orang-orang ini menari, yang bahkan mengakibatkan kematian mereka sendiri.

Sebuah manuskrip sejarah dalam arsip kota mengatakan;

Ada wabah aneh baru-baru ini.
Terjadi di kalangan rakyat jelata.
Banyak orang mulai mengalami kegilaan.
Mulai menari,
tanpa hambatan,
sampai mereka jatuh pingsan.
Banyak orang kehilangan nyawa karenanya.

Ratusan orang berpeluh dan mendapati tubuhnya terluka, kaki melepuh dan dialiri darah, namun tak satupun dari mereka yang mampu menghentikan tarian. Sesekali mereka hanya akan berhenti sejenak, hanya untuk berhenti sebentar memulihkan sedikit tenaga, lalu seakan-akan lupa daratan mereka pun kembali menari.

Bahkan, semakin hari semakin banyak orang yang terdorong untuk ikutmelakukan tarian. Tak ada yang dapat menghentikan mereka hingga akhirnya ratusan penari tersebut kehilangan nyawa.

Wabah menari yang berlangsung sepanjang Agustus hingga awal September tersebut pada akhirnya menghadirkan kepiluan dan ketakutan yang mencekam di antara masyarakat.

Menurut pakar kedokteran pada masa itu, wabah menari diakibatkan oleh “melimpahnya darah” serta hanya bisa disembuhkan “melalui musik”. Sehingga pada masa itu, ketika wabah tari dianggap semakin menjadi, dibuat keputusan bahwa penyembuhan yang paling tepat ialah dengan jalan membiarkan para penari malang tersebut terus menari tanpa hambatan. Musik dijalankan serta dibantu oleh penari sungguhan yang terus menemani penari malang tersebut menari-nari.

Malangnya, ternyata upaya tersebut justru semakin banyak mengundang korban. Bahkan orang-orang yang sebelumnya hanya menemani menari pun akhirnya tidak sedikit yang justru terjangkit wabah tersebut.

Selanjutnya, wabah menari tersebut pada akhirnya berangsur-angsur berakhir setelah gereja pada akhirnya memberlakukan misa untuk memohon pengampunan bagi para korban menari. Karena bukti-bukti tersebut, para ahli menyimpulkan bahwa wabah menari pada masa itu dipicu oleh kondisi keresahan dan ketidakpuasan akibat takhayul.

Selama beberapa abad, kejadian aneh yang disebut sebagai wabah menari ini, sama sekali tidak dapat dijelaskan oleh berbagai ilmuwan mengenai apa yang menyebabkan terjadinya tarian kematian yang aneh ini.

Wabah tarian dilakukan oleh masyarakat yang pada umumnya sedang berada dalam kondisi trans. Wabah tari adalah respon terhadap kesengsaraan, sugesti, dan kepercayaan. Hal ini secara tak langsung juga akhirnya menjelaskan mengapa tidak ditemukan wabah menari.

Bahkan saat ini wabah menari lebih terdengar fantastis, sulit dipercaya kalau wabah itu dulu benar-benar ada. Saat ini, kebanyakan orang telah berpendidikan dan berpola pikir secara modern. Segala jenis takhayul hampir tak selamanya mudah dipercayai oleh kalangan skeptis modern.

Kondisi trans menjadi salah satu kunci untuk memahami wabah menari. Tekanan psikologis yang ekstrim dapat menyebabkan trans. Selain tekanan psikologis, malnutrisi, diet rendah/kekurangan mineral, pola makan yang buruk pun dapat menyebabkan kondisi trans spontan.

Jika diperhatikan, hal-hal tersebut memang terjadi pada masyarakat Strassbourg tahun 1518 sehingga masuk akal jika kondisi trans pun dialami oleh masyarakat kala itu.(bs-22)

Tentang Bams al-Badrany

Me is me
Pos ini dipublikasikan di Supernatural Freak. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s