Mongolian Death Worm: Cacing Raksasa Mematikan Gurun Gobi

cryptid files.jpg
http://www.bamssatria22.wordpress.com
death worm header-001.jpg

MONGOLIAN DEATH WORM
-Worm Cryptid
-1922
-Gobi Desert, Mongolia

bamssatria22.wordpress.com

Mongolian Death Worm atau Cacing Kematian Mongolia (Bhs.Mongolia: олгой-хорхой, olgoi-khorkhoi, “cacing usus besar”) adalah makhluk yang dilaporkan ada di Gurun Gobi. Mahluk ini umumnya dianggap sebagai Cryptid, yaitu hewan yang penampakannya masih belum dikonfirmasi.

mongolian-death-worm.jpg

KEMUNCULAN

Mongolian Death Worm/Olgoi-Khorkhoi digambarkan menyerupai usus sapi, berwarna merah tua, dan kadang-kadang digambarkan memiliki bintik-bintik gelap atau bisul. Kadang-kadang dikatakan memiliki proyeksi berduri di kedua ujungnya. Cacing ini konon bertubuh tebal dengan panjang tubuh mencapai 2 sampai 5 kaki (0,6 sampai 1,5 m).

640px-allghoikhorkhoi.jpg
Sebuah interpretasi dari Mongolian Death Worm oleh pelukis Belgia, Pieter Dirkx.

Meskipun penduduk asli Gurun Gobi telah lama menceritakan kisah-kisah dari Olgoi-Khorkhoi, berita tentang makhluk ini baru menjadi perhatian Orang Barat ketika Profesor Roy Chapman Andrews (seorang penjelajah Amerika, petualang dan naturalis yang menjadi direktur Museum Sejarah Alam Amerika) menuliskannya dalam buku On the Trail of Ancient Man tahun 1926.

433px-roy_chapman_andrews_50488r.jpg
Roy Chapman Andrews

Andrews tidak sepenuhnya yakin dengan kisah cacing ini dan mengatakan bahwa ia mendengar di sebuah pertemuan para pejabat Mongolia: “Tidak ada dari mereka yang hadir pernah melihat makhluk itu, tetapi mereka semua sangat yakin keberadaannya dan menggambarkannya dengan rinci.”

Dalam bukunya, Andrews mengutip Perdana Menteri Mongolia Damdinbazar yang pada tahun 1922 menggambarkan cacing Olgoi-Khorkhoi: “Cacing ini berbentuk seperti sosis sekitar dua meter, tidak memiliki kepala atau kaki dan sangat beracun yang hanya dengan menyentuhnya menyebabkan kematian seketika. Ia tinggal di bagian paling sunyi dari Gurun Gobi.”

317px-jalkhanzkhutagt2.jpg
Jalkhanz Khutagt Sodnomyn Damdinbazar

Pada tahun 1932 Andrews mengulas informasi ini lagi di bukunya, The New Conquest of Central Asia , dengan menambahkan: “Cacing ini dilaporkan tinggal di daerah yang paling kering, di gurun pasir Gobi barat”. Andrews sendiri masih tidak yakin bahwa hewan ini nyata.

Ivan Mackerle, seorang cryptozoologist dan petualang dari Republik Ceko , menggambarkan cacing ini (laporan tangan kedua, atau bukan laporan langsung) dalam bukunya, Mongolské záhady (2001), “seperti sosis dengan panjang lebih dari setengah meter (20 inci), dan setebal lengan manusia, menyerupai usus sapi. Ekornya pendek, seolah-olah itu dipotong, tapi tidak meruncing, sulit untuk membedakan antara kepalanya dan ekornya karena tidak terlihat memiliki mata, hidung atau mulut meskipun mereka sebenarnya mungkin memilikinya. Warnanya merah tua, seperti darah atau salami .. . ”

ivan_macherle.jpg
Ivan Mackerle.

HABITAT DAN PERILAKU

Cacing ini dikatakan menghuni Gurun Gobi selatan. Penduduk Mongolia mengatakan bahwa olgoi-khorkhoi dapat membunuh dari jarak jauh dengan menyemprotkan asam yang akan mengubah apa saja yang terkena menjadi kuning dan berkarat (dan yang akan membunuh seorang manusia), serta kemampuannya dilaporkan dapat membunuh dengan cara mengalirkan listrik ketika disentuh.

Mereka juga mengatakan bahwa cacing ini berhibernasi sepanjang tahun dan aktif pada bulan Juni dan Juli. Dilaporkan juga bahwa cacing ini biasanya terlihat di permukaan ketika hujan dan tanah basah.

INVESTIGASI

Banyak penelitian dan ekspedisi dilakukan untuk menemukan bukti ilmiah tetang keberadaan cacing ini. Namun sejauh ini tak satupun bukti telah ditemukan. Lepas dari ketidak-adaan bukti, para peneliti setuju bahwa cerita rakyat mongolia tentang makhluk ini tidak bisa dikesampingkan begitu saja, walaupun kemungkinannya cerita telah dibesar-besarkan.

** Zoologist Inggris, Karl Shuker membawa hewan ini kembali ke perhatian umum dari masyarakat berbahasa Inggris dalam bukunya di tahun 1996, The Unexplained . Diikuti setahun kemudian dengan makalahnya, Studies Fortean , yang dicetak ulang dengan judul The Beasts That Hide From Man , yang mana dalam hipotesisnya bahwa cacing kematian adalah seekor Amphisbaenid .

**Sebuah ekspedisi gabungan (Centre for Fortean Zoology dan E-Mongol), pada tahun 2005, menyelidiki laporan baru dan penampakan Olgoi-Khorkhoi. Mereka tidak menemukan bukti keberadaannya, tapi tidak bisa mengesampingkan bahwa mungkin saja Olgoi-Khorkhoi hidup jauh di Gurun Gobi di sepanjang daerah terlarang dari perbatasan Mongolia-China.

** Pada tahun 2005, wartawan zoologi, Richard Freeman melakukan sebuah ekspedisi berkuda untuk berburu cacing kematian tapi pulang dengan tangan hampa.

**Seorang reporter televisi dari Selandia Baru, David Farrier dari TV3 News , mengambil bagian dalam sebuah ekspedisi pada bulan Agustus 2009, tapi pulang dengan tangan kosong juga. Ia melakukan wawancara dengan penduduk setempat yang mengaku telah melihat death worm dan disebutkan di situsnya bahwa penampakan memuncak pada tahun 1950.

** Serial Beast Hunter, yang dibawakan oleh Pat Spain di National Geographic Channel , juga menampilkan sebuah episode tentang keberadaan makhluk yang disengketakan keberadaannya ini.

** Serial realiti televisi, Destination Truth melakukan ekspedisi tahun 2006-2007.

** Loren Coleman memasukkan hewan ini dalam Cryptozoology A to Z.

REFERENSI BUDAYA

* Penampilan sastra pertama tentang cacing ini yakni dalam cerpen “Olgoi-khorkhoi” karangan Ivan Yefremov (1942-1943) berdasarkan deskripsi dari Profesor Andrews dan penduduk setempat Mongolia. Edisi pertama cerita pendek itu menyebut cacing ini dengan nama Allergorhai-Horhai , tetapi kemudian, setelah kunjungan Yefremov ke Mongolia, ia mengubah namanya menjadi ejaan Mongolia asli “Olgoi-khorkhoi”.

ivan_yefremov.jpg
Ivan Yefremov.

* Buku The Hobbit (1937) karangan J.R.R. Tolkien menyediakan referensi sebelumnya tapi cuma sekilas, yaitu bahayanya “Cacing liar di Gurun terakhir”. Dalam draf awal buku itu (1930-1932), Tolkien telah secara khusus terkait cacing ini dengan Gurun Gobi, seperti dicatat oleh John D. Rateliff dalam The History of The Hobbit .

tolkien_1916.jpg
John Ronald Reuel Tolkien.

TEORI KEMUNGKINAN

Sebenarnya makhluk atau hewan apakah ini? Dan mengapa berada disana? Saat ini tak seorangpun yang bisa menjawabnya kecuali menduga.

Samakah Death Worm dengan Belut Listrik? Belut listrik adalah makhluk bertubuh panjang dan dapat menghasilkan pelepasan muatan listrik cukup kuat untuk melumpuhkan atau membunuh mangsanya. Belut listrik sebenarnya bukan belut, mereka hanya seperti belut dalam bentuk. Nama sebenarnya juga bukan belut, tetapi Knifefish .

electric-eel.jpg
Belut Listrik

Knifefish biasanya hidup di dasar berlumpur dari air yang tenang dan naik ke permukaan setiap 10 menit atau lebih, untuk meneguk udara sebelum kembali ke bawah. Ini menunjukkan bahwa dia adalah calon yang lebih mungkin untuk memiliki variasi yang hidup di darat. Namun lingkungan seperti Gurun Gobi akan tampak sangat keras untuk makhluk seperti ini. Namun mengingat kepercayaan lokal bahwa “cacing suka untuk keluar di tanah umumnya setelah hujan, saat tanah masih basah”.

Electrophorus electricus terkenal karena kemampuannya untuk menghasilkan arus listrik yang kuat, mencapai 500-650 volt. Debit yang kuat yang digunakan untuk membunuh mangsanya dengan menyetrumnya atau untuk mengusir predator.

Ada sekitar 6.000 electroplates tersusun seperti sel kering dalam tubuh belut itu. Organ-organ internal semua berada di bagian kecil di belakang kepala, dengan 7/8 dari tubuhnya adalah ekor. Guncangan listrik berasal dari otot-otot terutama di bagian ekor dari tubuh belut listrik itu. Tubuh belut listrik mirip dengan baterai. Ujung ekor belut memiliki muatan positif dan kepala bermuatan negatif. Ketika belut menyentuh ekor dan kepalanya ke hewan lain, maka belut akan mengirimkan kejutan listrik melalui tubuh mereka. Ketika belut sedang beristirahat, tidak ada impuls listrik yang terjadi.

Walaupun semua makhluk hidup menghasilkan bio-listrik, Namun makhluk yang dikenal yang menghasilkan listrik yang berguna untuk navigasi, komunikasi dan untuk serangan/pertahanan adalah makhluk yang tinggal di air. Tidak ada belut listrik yang dikenal dapat memancarkan/menyemprotkan racun.

Samakah Death Worm dengan Spitting Cobra? Spitting Cobra atau kobra sembur , sangat akurat pada jarak hingga lebih dari 10 meter. Ketika kobra ingin menyemprot racun kepada sesuatu yang mengancamnya, dia menengadah, membuka mulutnya dan kontraksi otot khusus kelenjar Venom, memaksa Venom Cobra keluar melalui taringnya. Cobra sembur menyemprotkan racun yang menyakitkan langsung ke dalam mata hewan yang menjadi ancaman potensial dari jarak yang aman. Beberapa kobra sembur berwarna kemerahan mirip dengan laporan mengenai warna Cacing Kematian Mongolia.

red-spitting-cobra.jpg
Red Spitting Cobra

Mungkin cerita tentang daya listrik yang dimiliki cacing mongolia adalah sesuatu yang dibesar-besarkan yang disebabkan oleh kejutan pada seseorang ketika melihat cacing itu tiba tiba muncul dari pasir.

Cacing kematian Mongolia bisa jadi merupakan hasil dari bentuk kekuatan magis yang diciptakan untuk melindungi rahasia dari sebuah peradaban kuno yang hilang yang pernah ada di Gurun Gobi. Mungkin ada makam, gua terowongan, harta, manuskrip kuno atau bahkan teknologi canggih yang sengaja disembunyikan dan dilindungi di bawah pasir yang tidak ramah dan bebatuan dari Gurun Gobi.

PENUTUP: TENTANG GURUN GOBI

Kata Gobi berarti “sangat besar dan kering” dalam bahasa Mongolia. Meliputi daerah 1.300.000 km persegi, menjadikannya salah satu padang pasir terbesar di dunia. Berlawanan dengan seperti yang sering dibayangkan orang tentang gurun pasir, di banyak lokasi, Gobi tidak berpasir saja, tetapi juga ditutupi oleh bebatuan.

800px-omnogovilandscape.jpg
Landscape Gurun Gobi di Provinsi Omnogovi, Mongolia

Kamus Teosofi Gurun Gobi, Gurun Shamo:
Gurun Gobi atau Shamo adalah Sebuah wilayah kering terdiri dari pegunungan dan dataran liar berpasir, dulunya adalah tanah dan danau yang subur dan disanalah lokasi “Pulau Suci” di mana Anak-anak Will dan Yoga , ” yang terpilih dari akar-ras ketiga, mengungsi dan berlindung, ketika Daityas menang atas para dewa dan manusia menjadi hitam dengan dosa. Kisah ini disebutkan dalam legenda cina yang juga mengatakan bahwa keturunan para pengungsi masih mendiami suatu “oasis suci” di padang belantara besar yang mengerikan di Gurun Gobi, yang sekarang dikenal dengan nama dongeng Sambhala “.

Wilayah ini berubah menjadi lautan untuk terakhir kalinya sepuluh atau dua belas ribu tahun yang lalu, sebuah bencana lokal mengeringkan perairan sebelah selatan dan barat, meninggalkan kondisi seperti sekarang. Peristiwa keringnya wilayah Gobi juga dihubungkan dengan sebuah alegori perang antara kekuatan jalan kanan dan jalan kiri. Jalan kanan adalah yang baik sedangkan jalan kiri adalah yang jahat, yaitu dunia Hedon dan materialistik.

Sumber: http://www.virtuescience.com, en.wikipedia.org

Tentang Bams al-Badrany

Me is me
Pos ini dipublikasikan di The Cryptid Files dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s