Yeti: Dari Sejarah Hingga Penampakannya Di Himalaya

cryptid files.jpg
YETI: Abominable Snowman Of Himalayas
abominable_snowman_of_himalayas-001.jpg

YETI
-Hominid Cryptid
-1832
-Himalayas (Nepal, Bhutan, China, India, Mongolia, Russia)

bamssatria22.wordpress.com

Makhluk mistis yang disebut Yeti diyakini menghuni wilayah pegunungan Himalaya. Ia kali pertama dilaporkan muncul sebelum abad ke-19. Yeti digambarkan mirip primata, mengerikan, kerap membawa batu besar sebagai senjata untuk melumpuhkan manusia, dan membuat suara mirip siulan. Benarkah Yeti sejatinya ada atau sekedar mitos?

yeti.jpg

ETIMOLOGI

Kata Yeti berasal dari bahasa Tibet: g.ya ‘dred, ZYPY: Yachê), ZYPY: ya=rocky(Tempat yang berbatu) dan ZYPY: chê=bear(beruang). Pranavananda menyatakan bahwa kata-kata “ti”, “te” dan “teh” berasal dari kata yang diucapkan ‘tre’ (dieja “dred”), Tibet untuk beruang, dengan ‘r’ begitu lembut diucapkan untuk menjadi hampir tak terdengar, sehingga membuatnya “te” atau “ti”.

Istilah lain yang digunakan oleh masyarakat Himalaya tidak menerjemahkan dengan persis sama, tapi mengacu pada satwa liar asli yang legendaris:
** Miche -(bahasa Tibet: mi dred, ZYPY: Miche) diterjemahkan sebagai “manusia-beruang”.
** Dzu-teh -‘dzu’ diterjemahkan sebagai “sapi” dan dalam arti penuh diterjemahkan sebagai “beruang sapi”, mengacu pada beruang coklat Himalaya.
** Migoi/Mi-go -(bahasaTibet: mi rgod, ZYPY: Migo/Mirgö) diterjemahkan sebagai “manusia liar”.
** Bun Manchi -(bahasa Nepal= manusia hutan) yang digunakan di luar masyarakat sherpa dimana yeti adalah nama yang umum digunakan.
** Mirka -nama lain untuk “manusia liar”. Legenda setempat menyatakan bahwa “siapa pun yang melihatnya maka akan tewas ataupun terbunuh”. Yang terakhir ini diambil dari pernyataan yang ditulis oleh Frank Smythe’s sherpas pada tahun 1937.
** Kang Admi – Manusia Salju.

THE ABOMINABLE SNOWMAN

Mitos mengatakan bahwa Yeti, atau Abominable Snowman , adalah makhluk besar yang mendiami wilayah Himalaya, Nepal dan Tibet, dimana cerita tentang Yeti ini telah ada secara turun-temurun. Sisa-sisa fosil yang ditemukan disana dari zaman Pleistosen , sekitar 2,5 juta sampai 11 ribu tahun yang lalu, mengungkapkan bahwa terdapat kerangka makhluk yang disebut Gigantopithecus , atau kera besar, yang punah 300.000 tahun lalu. Primata ini memiliki tinggi sekitar 10 kaki dan beratnya setengah ton. Hal ini memungkinkan mereka tinggal bersama nenek moyang manusia kita di daerah yang sekarang bernama Cina, India, dan Vietnam. Namun komunitas ilmiah umumnya menganggap spesies ini hanya sebagai kera besar punah, dan Yeti tidak lebih dari sebuah legenda.

Yeti dipercaya sebagai manusia salju oleh masyarakat di sekitar pegunungan Himalaya. Yeren atau orang liar, demikian masyarakat menyebut Yeti. Sebutan Yeti berasal dari bahasa Sherpa/Newari yang digunakan oleh bangsa Cina-Tibet dengan pengucapan ‘yeh’ yang berarti ‘salju’ dan ‘te’ yang berarti ‘hewan’.

Beberapa orang ada yang salah mengartikan sebagai ‘binatang batu’ karena Yeh juga bisa berarti ‘area berbatu’. Orang-orang Nepal juga menyebutnya ‘Bonmanche’ yang berarti ‘manusia liar’ atau ‘Kanchanjunga Rachyyas’ yang berarti ‘iblis Kanchanjunga’.

Keberadaannya belum terbukti langsung dengan kasat mata karena beberapa penelitian selalu menemui jalan buntu saat ingin mengabadikan tentang sosok ini. Secara fisik, makhluk ini punya perawakan besar berbulu dan berjalan seperti manusia. Makhluk ini berjalan tegak dengan gaya yang canggung.

Penduduk dan pemburu di sekitar Himalaya bahkan menyatakan kalau makhluk ini pandai menyembunyikan diri. Hal ini disebabkan karena habitatnya yang memang jauh dari jalur manusia. Para pemburu juga mengatakan bahwa Yeti tidak tinggal di zona bersalju, melainkan di hutan Himalaya yang paling tinggi dengan kelebatan yang nyaris tak tertembus. Kalau makhluk ini berkelana ke zona bersalju, pastilah para pendaki gunung mungkin melihatnya atau menemukan jejak kakinya.

Sherpa , penduduk asli Nepal menduga bahwa alasan makhluk ini melintasi ladang bersalju adalah untuk mencari lumut yang mengandung garam yang banyak tumbuh di tumpukan batu sekitar gunung Himalaya. Ilmuwan Inggris, Ivan Sanderson mengatakan bahwa mahkluk ini bukan mencari lumut melainkan lumut kerak, yang kaya akan gizi.

Namun beberapa teori menyebutkan bahwa keberadaan Yeti tidak memberi petunjuk apakah itu binatang, orang seperti makhluk atau alien. Para ilmuwan lalu mengelompokkannya sebagai cryptid. Cryptid pada dasarnya adalah hewan-hewan yang diyakini ada tapi sampai sekarang belum diklasifikasikan ke dalam jenis hewan tertentu karena kurangnya bukti ilmiah dalam mengidentifikasikannya.

Kisah Meh-te , atau manusia beruang, serupa Yeti, sangat terkenal di Nepal. Bahkan kisah ini menarik perhatian bangsa barat ketika pada tahun 1830-an, Journal of Asiatic Society of Bengal diterbitkan oleh seorang petualang Inggris, B. H. Hodgson , yang menggambarkan makhluk ini sebagai sosok dengan tinggi besar dengan dua kaki dan ditutupi oleh rambut hitam yang diklaim terlihat saat dia dan timnya sedang trekking di Nepal.

Pada akhir abad ke-19, cerita Yeti pertama didengar oleh dunia Barat. Kemudian pada abad ke-20 ketika banyak pendaki gunung mulai berpetualang ke wilayah Himalaya , dan jumlah penampakan secara dramatis meningkat. Mereka melaporkan melihat jejak kaki aneh atau makhluk ganjil.

Pada tahun 1921, istilah “Abominable Snowman” dipopulerkan setelah Royal Geographical Society’s Everest Reconnaissance Expedition kembali ke Inggris dengan cerita-cerita Yeti seperti yang dikisahkan oleh pemandu Sherpa mereka.

SEJARAH: SEBELUM ABAD KE-19

Menurut H. Siiger, Yeti adalah bagian dari kepercayaan pra-Buddhis beberapa orang Himalaya. Dia diberitahu bahwa orang-orang Lepcha menyembah suatu “Glacier Being (makhluk sungai es)” sebagai sebagai Dewa Berburu. Dia juga melaporkan bahwa pengikut agama Bön pernah percaya darah dari “mi rgod” atau “manusia liar” telah digunakan dalam upacara-upacara mistik tertentu. Makhluk ini digambarkan sebagai makhluk mirip kera yang membawa batu besar sebagai senjata dan membuat suara mirip bersiul.

SEJARAH ABAD 19

Pada tahun 1832, James Prinsep’s Journal of Asiatic Society of Bengal menerbitkan cerita penjelajah BH Hodgson beserta pengalamannya di Nepal utara. Pemandu lokal-nya melihat suatu makhluk tinggi yang berdiri tegak dan berjalan dengan dua kaki ditutupi dengan rambut hitam panjang, yang tampaknya melarikan diri dalam ketakutan. Hodgson menyimpulkan itu adalah orangutan.

Sebuah catatan awal laporan suatu jejak kaki yang ditemukan pada tahun 1899 oleh Laurence Waddell di tengah-tengah Himalaya. Waddell melaporkan deskripsi jejak kaki-nya dari makhluk mirip kera besar, yang Waddell pikir mungkin dibuat oleh beruang.

SEJARAH ABAD 20

Frekuensi laporan meningkat selama awal abad ke-20, ketika orang Barat mulai melakukan upaya pendakian ke puncak dari banyak gunung di daerah itu dan kadang-kadang melaporkan melihat makhluk aneh ataupun jejak kaki yang aneh.

Pada tahun 1925, seorang fotografer bersama Royal Geographical Society melaporkan telah melihat makhluk aneh di dekat gletser terbesar di dunia, Zemu, di India. N. A. Tombazi menulis bahwa, “Tidak diragukan lagi, sosok itu menyerupai manusia, berjalan tegak dan berhenti sesekali untuk menarik beberapa semak dwarf rhododendron “. Dia mengatakan, jejak kaki makhluk ini mirip dengan manusia, tetapi dengan ukuran yang lebih besar. Panjangnya hingga enam hingga tujuh inci dan lebarnya sekitar empat inci.

Ketertarikan dunia Barat pada Yeti memuncak secara dramatis pada tahun 1950. Yang paling populer adalah penampakan versi Eric Shipton ketika ia mencoba untuk mendaki Gunung Everest pada tahun 1951. Eric Shipton bahkan menyebarkan foto-foto jejak kaki Yeti. Jejak kaki itu panjangnya 13 inch dengan lebar 8 inci. Saat itulah nama Yeti mulai terkenal ke penjuru dunia. Foto-foto ini telah menjadi subjek penelitian dan perdebatan. Beberapa berpendapat ini adalah bukti terbaik dari keberadaan Yeti, sementara yang lain berpendapat jejak kaki ini adalah jejak makhluk biasa yang telah terdistorsi oleh salju yang mencair.

The Daily Mail mensponsori Snowman Expedition pada tahun 1954 untuk menyelidiki penampakan terakhir Yeti. Selama perjalanan, pendaki gunung John Angelo Jackson banyak menemukan dan memfoto jejak kaki, beberapa ada yang besar dan tidak teridentifikasi. The Daily Mail kemudian memuat artikel yang menggambarkan bagaimana tim ekspedisi memperoleh spesimen rambut cokelat kehitam-hitaman dan gelap yang sama dengan yang ada di Biara Pangboche .

pangboche_monastery.jpg
***(Biara Pangboche adalah sebuah Biara Buddha Di ketinggian pegunungan terpencil Himalaya. Selama badai salju, biara itu hanya dapat ditemukan oleh para pelancong yang mendengarkan bunyi tanduk seremonial para biarawan. Dindingnya dilapisi oleh lukisan tradisional Nepal yang menggambarkan jalur berbahaya menuju biara. Dan di antara lukisan-lukisan itu, terdapat gambar makhluk mirip kera legendaris yang kita sebut Yeti. Hal ini mungkin terdengar aneh, tapi selama bertahun-tahun, sebuah tangan keriput seukuran manusia dewasa, dengan jari-jari panjang dan kuku keriting, diperlihatkan di biara, dan dihormati oleh para biarawan yang percaya bahwa tangan tersebut dapat melindungi mereka dari nasib buruk. Faktanya, tiga tahun lalu, di bagian koleksi kerangka manusia dan primata di Royal College of Surgeons di London, terdapat jari kering yang baru saja ditemukan dari College Hunterian Museum . Labelnya, ‘Jari Yeti dari Tangan Pangboche’.)***

Bahkan pada tahun 1953, Sir Edmund Hillary dan seorang sherpa, Tenzing Norgay melaporkan melihat jejak kaki besar saat mendaki Everest , meskipun Hillary tetap skeptis apa yang dilihatnya itu adalah jejak kaki Yeti.

Segera setelah itu mulai banyak hal baru yang mulai muncul seperti penemuan bekas telapak kaki, beberapa helai rambut, kotoran, tempat peristirahatan, maupun bekas jari Yeti. Banyak penelitian dilakukan pada spesimen ini dan beberapa ada yang menyimpulkannya sebagai cryptid. Sementara yang lain menghubungkannya dengan beberapa beruang atau spesies kambing.

Pada tahun 1957, Tom Slick , seorang Amerika yang kaya, mendanai serangkaian ekspedisi untuk menyelidiki keberadaan Yeti. Ia menjadi begitu terobsesi setelah mendengar tentang mereka saat melakukan perjalanan bisnis ke India.

Satu tahun kemudian, selama satu ekspedisi yang didanai oleh Slick, penjelajah asal Irlandia-Amerika, Peter Byrne , mendengar dua orang sherpa menyebutkan kata Meh-te. Ketika ditanyai, mereka bercerita tentang tangan Yeti kuno yang diawetkan di Biara Pangboche.

Hari-hari selama trekking yang dilalui dengan melewati beragam bahaya yang mengancam, seperti longsoran-longsoran salju, mengantarkan Byrne menuju biara yang megah. Dia ingat berjalan di lorong dengan cahaya lilin dan digiring ke ruangan yang berisi tangan Yeti Pangboche. “Tangan itu diselimuti oleh kulit hitam yang telah rusak,” kata Byrne.

Dan meskipun para biarawan enggan, mereka akhirnya sepakat untuk memberikan satu jari tangan Yeti seharga £100, hanya jika Byrne bisa menemukan cara untuk menyamarkan jari yang hilang itu hingga terlihat seperti semula. Para pendaki gunung memasangkan jari manusia pada bagian jari yang hilang, setelah sebelumnya diwarnai dengan yodium agar warnanya terlihat sama. Sekarang, jari tangan Yeti tersebut telah ada pada Byrne. Tetapi, dia sekarang menghadapi perjalanan pulang yang berbahaya, karena pada tahun-tahun sebelumnya, pemerintah Nepal telah menetapkan peraturan di dalam undang-undang, bahwa tidak diperkenankan bagi orang asing untuk membunuh Yeti. Jadi, Byrne mengambil risiko dengan melakukan perjalanan dengan berjalan kaki melintasi perbatasan ke India dengan jari yang dibawanya dari biara. Tujuannya adalah untuk menyelundupkan jari itu ke London dengan pesawat tanpa ditemukan dan diberikan pertanyaan-pertanyaan oleh pemerintah setempat.

Seorang teman berburunya di India, bintang film Jimmy Stewart dan istrinya (Gloria) yang tertarik dengan legenda yeti bersedia membantunya untuk melewati bea cukai. Gloria menyembunyikan jari itu di dalam pakaiannya dan mereka terbang dari India tanpa kesulitan. Sesampainya di London, jari tersebut lalu diserahkan kepada tokoh primatologi terkenal dunia, Profesor William Osman Hill untuk dianalisis.

Berdasarkan hasil tesnya, setelah dibandingkan dengan tangan manusia, Profesor berkesimpulan bahwa itu bukan jari tangan manusia. Tapi cerita ini meredup. Tidak ada lagi yang mendengarnya selama bertahun-tahun, meskipun diketahui bahwa Profesor Osman Hill akhirnya mewariskan jari ini ke Hunterian Museum . Tidak ada yang tahu mengapa, setelah semua upaya untuk mendapatkan jari itu dan membawanya kembali ke London, pada akhirnya hanya diserahkan kepada museum dan dilupakan.

pangboche-finger.jpg
jari Yeti, gambar dari London’s Royal College of Surgeons.

Pada tahun 1974, berita tentang serangan Yeti pada istri seorang sherpa sampai ke Inggris. Lap Kadoma diduga dilemparkan ke sungai oleh suatu makhluk besar yang mendekatinya dari belakang. Ketika ia siuman, ia menemukan sejumlah yak tewas tergeletak di dekatnya. Luka-luka pada yak ini tidak seperti yang ditimbulkan oleh macan tutul salju atau beruang, yang merobek bangkai mangsanya secara terpisah. Sebaliknya, ada tanda gigi dan daging-dagingnya telah habis dimakan.

YETI DI ABAD 21

Akhir tahun 2007 lalu, para penjelajah dari serial ‘Destination Truth’ mengatakan telah menemukan bukti baru mengenai keberadaan makhluk Yeti di Himalaya. Mereka mengatakan telah menemukan bukti baru mengenai keberadaan makhluk Yeti di Himalaya, yakni ditemukannya tapak-tapak kaki Yeti ketika mencoba mengungkap misteri tersebut untuk film dokumenter televisi. Salah satu tapak yang diperlihatkan terdiri dari satu kaki utuh yang besarnya hampir dua kali ukuran tapak kaki manusia. Para penjelajah itu mengatakan makhluk tersebut tingginya bisa sampai 2,4 meter.

jejak-kaki-yeti-us-presenter-josh-gates.jpg
“Kami membawa tapak-tapak kaki ini ke Amerika Serikat untuk dianalisa lebih lanjut,” kata Josh Gates , pembawa acara serial tersebut kepada Deutsche Presse-Agentur di Kathmandu.

Menurut Gates, tapak kaki itu ditemukan di suatu daerah terpencil yang tidak ditinggali manusia yang jaraknya tiga hari berjalan kaki dari Lukla , daerah yang jauhnya sekitar 250 kilometer arah barat laut dari ibu kota Nepal, Kathmandu.

Penemuan tentang Yeti juga terjadi pada tahun 2009 di pegunungan Tatra , Polandia. Saat itu seorang pria lokal yang bernama Piotr Kowalski sedang merekam seekor kambing yang ia lihat dibalik tebing. Ketika ia sedang merekam, tiba-tiba ia dikejutkan seekor makhluk yang muncul dari balik bebatuan.

yetipoland1_400x324.jpg
Yeti, Rekaman kowalski.

Rekaman Kowalski telah diserahkan kepada Nautilus Foundation yang biasa meneliti fenomena aneh. Menurut presiden lembaga tersebut, Robert Bernatowicz , film ini jelas menunjukkan satu makhluk yang lebih besar dibanding manusia pada umumnya. Namun karena kameranya bergetar, maka sangat sulit menentukan apa yang telah terekam kamera tersebut. Jadi lembaga itu memutuskan untuk meneliti langsung ke pegunungan Tatra untuk mencari jejak-jejak yang tertinggal.

Tanggal 27 Desember 2011, waktu 11:24 GMT, mungkin adalah waktu yang bersejarah bagi para pemerhati misteri Yeti. Tim dokumentasi BBC yang telah mengambil sample DNA dari jari Yeti yang berasal dari biara Pangboche, telah berhasil menganalisisnya. Sample DNA ini diteliti oleh seorang ahli genetik, Edinburgh Zoo , dan menyimpulkan bahwa jari ini merupakan tangan manusia.

Dr.Rob Ogden , dari Royal Zoological Society of Scotland , berkata, “Kami harus menjahitnya bersama-sama. Kami memiliki beberapa fragmen yang kami masukkan ke dalam satu urutan besar dan kemudian kami cocokan dengan database yang kami miliki dan kami menemukan DNA manusia.”

Ian Redmond , seorang primatologi berkata, “Dari apa yang kita tahu tentang Yeti, saya akan mengharapkan jari tersebut lebih kuat dan lebih panjang dan mungkin dengan beberapa rambut di belakangnya. “Jika seseorang baru saja menemukan jari itu tanpa mengetahui cerita Yeti seperti apa, saya pikir Anda akan berpikir itu adalah jari manusia.”

Publik sulit untuk mengatakan apakah harus percaya atau tidak kepada orang yang mengatakan bahwa ia telah melihat Yeti namun tak bisa membuktikannya, minimal foto yang nyata. Seorang Sherpa tua di Himalaya pernah berkata,”Yeti itu ada di balik pikiran semua manusia, hanya mereka yang diberkatilah yang tidak dihantui makhluk itu”.

sampai hari ini, legenda Yeti masih tetap begitu kuat seperti sebelumnya. Tahun lalu saja, ada 15 penampakan yang dilaporkan di Siberia. Kemerovo State University di Rusia bahkan menyiapkan sebuah lembaga penelitian untuk menelisik lebih dalam tentang laporan dan penampakan Yeti ini.

Dalam salah satu penampakan, beberapa nelayan yang berlayar dalam perahu mereka di Desa Myski melihat beberapa sosok mahluk berbulu. Awalnya mereka menduga, itu adalah kerumunan beruang. Namun, gerak-gerik mereka tak seperti binatang, para nelayan pun berubah pikiran, mengiranya sebagai manusia. Demikian seperti dimuat Siberian Times .

“Kami berteriak ke mereka, apakah kalian membutuhkan bantuan?,” kata salah satu nelayan, Vitaly Vershinin . Namun, teriakan itu tak berbalas. “Mereka justru bergegas pergi, semuanya berbulu, berjalan dengan dua kaki, menerobos ke semak-semak, menuju bukit,” tambah dia. Vershinin menegaskan, mahluk itu tak mungkin beruang, sebab meski bisa berdiri dengan dua kaki, beruang biasanya berjalan dengan empat kaki. Sedangkan mahluk yang mereka lihat berlari dengan dua kaki.

vitaliy vershinin.jpg
Vershinin menunjukkan kepada kru Vesti TV Rusia tempat dimana ia melihat Yeti.

Penampakan kedua terjadi di tepi sungai Mras-Su beberapa hari kemudian. Seorang nelayan mengaku melihat binatang tinggi berbulu yang mirip manusia. “Teropong kami rusak sehingga kami tak bisa melihatnya dengan jelas. Kami melambai ke binatang itu namun tak ada respon, mereka langsung berlari ke arah hutan, berjalan cepat dengan dua kaki.”

Dalam kasus selanjutnya, menurut seorang pegawai pemerintah, Sergei Adlyakov , seorang inspektur kehutanan yang tidak disebutkan namanya mengaku bertemu yeti di Taman Nasional Shorsky . “Mahluk itu tidak mirip beruang dan cepat-cepat menghilang setelah mematahkan ranting semak,” kata dia.

Kasus yang terakhir terjadi di Distrik Tashtagolski , dekat perbatasan Khakassia . Namun, tak ada gambar yang meyakinkan dari tiga penampakan tersebut, hanya sebatas pengakuan.

Ahli yeti terkemuka Rusia, Igor Burtsev , sekaligus kepala International Centre of Hominology , mengatakan, lokasi penampakan di Myski akan menjadi tuan rumah konferensi internasional dan ekspedisi pencarian yeti. Ia mengatakan, penampakan yang terjadi di sana sangat signifikan. “Kami akan menjelajahi area baru, ke utara, di tempat biasanya yeti terlihat sebelumnya. Konferensi ini akan dimulai di Moskow dan kemudian kami akan melakukan perjalanan ke wilayah Kemerovo,” kata dia.

burtsev heading for kemerovo 2012-001.jpg
Igor Burtsev di Kemerovo, 2011.

Pada ekspedisi serupa tahun lalu, ia mengaku telah menemukan rambut yeti meskipun tidak ada temuan DNA yang telah dirilis. Dia mengklaim, makhluk yang juga dikenal sebagai Bigfoot dan Sasquatch itu, adalah rantai yang hilang antara manusia Neanderthal dan manusia modern. Burtsev membantah tudingan bahwa ‘penampakan’ yeti adalah tipu muslihat untuk menarik wisatawan datang.

Sebuah ‘penampakan baru’ dari Yeti oleh anak sekolah 11 tahun merupakan yang terbaik yang pernah dilihat di Rusia. Sebuah rekaman blur yang diambil dengan ponsel yang diduga monster salju di pohon-pohon di wilayah Kemerovo selatan Siberia. “Saya tidak meragukan lagi itu Yeti. Ia berdiri dengan pose yang khas dengan punggung sedikit membungkuk, dan lengan menjuntai panjang ke bawah,” kata Igor Burtsev.

yeti-001.jpg
“Ini adalah video nyata, tidak dipalsukan. Segera para ahli akan mencoba untuk menetapkan jenis kelamin makhluk itu. Jejaknya di salju sangat menarik: tidak hanya panjang tapi besar,” tambahnya.

“Sepertinya pertama kali makhluk ini berjalan menuju desa dan kemudian balik lagi meninggalkan jejak kakinya. Ini sesuai dengan apa yang kita ketahui tentang Yeti, mereka berjalan tanpa membusungkan dada.”

Penampakan Yeti ini difilmkan oleh Yevgeny Anisimov , bersama dua orang teman di hutan sekitar 18 km dari kota pertambangan batu bara dari Leninsk-Kuznetskiy . Burtsev mengatakan kepada The Siberian Times: “Mereka berjalan menyusuri serangkaian jejak besar di salju. Anak-anak punya rasa ingin tahu yang besar dan mengikuti jejak itu, sambil direkam dengan kamera ponsel. Mereka berjalan dan semakin dekat ke semak, di mana tiba-tiba mereka melihat Yeti, sekitar 50 meter jauhnya dari mereka. Makhluk itu melihat mereka juga, bergerak dengan cepat, membungkuk, dan berlari meninggalkan meninggalkan mereka. Sementara anak-anak itu pun ketakutan, berlari ke arah yang berlawanan.”

Namun, para pakar lain masih meragukan, apakah rekaman video ini nyata atau hasil hoax anak-anak sekolah.

Sementara, November lalu, pemburu mengklaim mereka telah menemukan sarang mahluk legendaris Yeti di daerah yang sama di Siberia. Ditemukan juga pohon yang sengaja dipelintir melengkung. Namun, ahli biologi, John Bindernagel mengatakan, pohon seperti itu belum tentu akibat ulah manusia atau mamalia lain. Pohon seperti itu jamak ditemukan di Amerika Utara.

close-up of yeti nest-001.jpg
branch formations on the way to cave 001-001.jpg

Penampakan yeti juga dilaporkan di Prancis dan Amerika Utara, namun Dr.Bindernagel mengatakan, mayoritas dari laporan penampakan diabaikan para ilmuwan yang tak mau terjebak dalam “lelucon atau mitos”.

john-binderngel-wsj-siberian-yeti-kemerovo.jpg

Padahal bisa saja, hal ini mampu membuka kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih luas sehingga misteri-misteri yang belum terpecahkan menjadi terpecahkan. Atau mungkin saja Yeti tetap menjadi misteri sampai kapanpun. (bs22)

possible-explanations-for the yeti-001.jpg
Berbagai penjelasan tentang jejak dan penampakan makhluk misterius di Himalaya, saya pribadi lebih memilih gambar tengah bawah, Yeti tetaplah Yeti.

Tentang Bams al-Badrany

Me is me
Pos ini dipublikasikan di The Cryptid Files dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s