Vampire: Kepercayaan Dari Berbagai Benua Hingga Teori-Teori Keberadaannya

magical creatures.jpg

Tentang Vampire.

vampire-001.jpg

Vampire adalah tokoh dalam mitologi dan legenda yang hidup dengan memakan intisari kehidupan (biasanya dalam bentuk darah) dari makhluk hidup lain. Meskipun kepercayaan terhadap setan penghisap darah terdapat dalam berbagai budaya dan telah ada sejak zaman kuno, istilah vampire sendiri baru populer pada awal abad ke-18 setelah masuknya legenda vampire ke Eropa Barat dari daerah Balkan dan Eropa Timur.

Di daerah-daerah tersebut juga terdapat legenda mengenai makhluk-makhluk seperti vampire, misalnya Vrykolakas di Yunani dan Strigoi di Rumania yang juga ikut meningkatkan kepercayaan vampire di Eropa. Vampire dalam legenda Balkan dan Eropa Timur memiliki penampilan yang beragam (mulai dari makhluk mirip manusia sampai mayat hidup) sedangkan di Eropa Barat, vampire digambarkan sebagai makhluk yang berpenampilan rapi dan mewah.

ETIMOLOGI

Kata vampire dalam bahasa Inggris pertama kali muncul pada tahun 1734 dalam sebuah cerita berjudul Travels of Three English Gentlemen yang diterbitkan dalam Harleian Miscellany pada tahun 1745. Istilah bahasa Inggris, vampire, berasal dari bahasa Jerman vampir (kemungkinan melalui bahasa Perancis:vampyre). Bahasa Jerman sendiri mengambilnya pada awal abad ke-18 dari bahasa Serbia, вампир/vampir. Istilah tersebut masuk ke bahasa Jerman pada masa ketika Serbia masuk dalam Kekaisaran Austria, pada saat itu diceritakan adanya seorang vampire bernama Arnold Paole.

Bentuk Serbia tersebut memiliki kesamaan dengan bahasa Slavia lainnya: вампир (vampir, Bahasa Bulgaria), upir/upirina( Bahasa Kroasia), upír( Bahasa Ceko dan Bahasa Slovakia), wąpierz( bahasa Polandia), упир (upyr, bahasa Ukraina), упырь (upyr, bahasa Rusia), упыр (upyr, bahasa Belarusia). Asal katanya sendiri belumlah jelas.

Penggunaan pertama bentuk Rusia kuno, Упирь (Upir), terdapat dalam dokumen yang bertahun 6555 (1047 M). Itu merupakan tanda penerbit dalam sebuah manuskrip dari Kitab Mazmur yang ditulis oleh seorang pendeta yang menyalinnya dari Aksara Glagolitik ke aksara Sirilik untuk pangeran Novgorod, Volodymyr Yaroslavovych . Sang pendeta menuliskan namanya “Upir’Likhyi” (Оупирь Лихыи), yang bermakna “Vampire jahat” atau “Vampire busuk”. Nama yang aneh ini disebut sebagai contoh paganisme dan penggunaan nama julukan sebagai nama pribadi.

Penggunaan awal lainnya dari kata tersebut terdapat dalam risalah anti-pagan berjudul “Firman Santo Grigoriy” , bertahun antara abad ke-11 sampai 13 M. Pada saat itu dilaporkan adanya pemujaan pagan terhadap Pupyri.

KEPERCAYAAN YANG BERASAL DARI CERITA RAKYAT

Kepercayaan terhadap vampire telah ada selama berabad-abad. Kebudayaan Mesopotamia (termasuk Lilith dan Edimmu dalam mitologi Sumeria, Assyria, dan Babylonia ), Yahudi, Yunani kuno , dan Romawi kuno menceritakan mengenai setan atau roh yang mirip dengan vampire modern. Tetapi vampire yang dikenal sekarang berasal dari Eropa Tenggara abad ke-18.

314px-lilith_(john_collier_painting).jpg
Lilith(1892), by John Collier

Dalam sebagian besar cerita rakyat, vampire adalah mayat hidup, korban bunuh diri, atau penyihir tetapi vampire juga bisa diciptakan dari roh jahat yang masuk ke suatu mayat dan melalui gigitan vampire lain. Legenda ini semakin lama semakin meluas dan bahkan di beberapa daerah menyebabkan histeria massal dan beberapa orang dituduh sebagai vampire.

PENGGAMBARAN TENTANG VAMPIRE

Dalam legenda-legenda di Eropa, vampire biasanya digambarkan bertubuh membengkak dari tubuh normal dan berwarna merah gelap. Dalam peti matinya, vampire mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya dan kadang-kadang dengan mata kiri yang terbuka. Setelah dikubur, mayat yang merupakan vampire tetap mengalami pertumbuhan gigi, rambut, dan kuku.

PROSES MENJADI VAMPIRE

Proses menjadi vampire berbeda-beda dalam beberapa kepercayaan. Di Slavia dan Cina, mayat yang dilangkahi oleh kucing atau anjing akan menjadi mayat hidup. Dalam kepercayaan Rusia, vampire adalah penyihir atau manusia yang semasa hidupnya menentang Gereja.

Ritual budaya kadang dilakukan untuk mencegah orang yang baru saja meninggal berubah menjadi mayat hidup, misalnya mengubur mayat secara terbalik atau menaruh benda-benda duniawi seperti arit atau sabit di dekat makam dengan maksud agar setan yang mendatangi mayat merasa senang atau supaya roh sang mayat merasa tentram sehingga tidak akan bangkit dari peti mati. Cara ini mirip dengan praktik penguburan orang Yunani kuno yang mengharuskan untuk menaruh sekeping obolus di mulut mayat supaya roh mayat tersebut bisa melewati sungai Styx. Tradisi ini terus berkembang menjadi kepercayaan Yunani tentang vrykolakas ,yang mana sebuah salib dan tembikar bertuliskan “Yesus Kristus berkuasa” ditaruh bersama mayat untuk mencegah mayat tersebut berubah menjadi vampire.

Cara lainnya yang dipraktikkan di Eropa meliputi pemotongan tendon di lutut atau penaburan biji opium atau pasir di tanah pemakaman; Ini bertujuan agar sang vampire menghabiskan sepanjang malam dengan menghitung biji-bijian tersebut. Dalam suatu cerita tradisional Cina, jika ada vampire yang melihat sekarung beras, maka vampire tersebut akan menghitung tiap butirnya. Mitos ini juga muncul di India dan dalam cerita masyarakat Amerika Selatan tentang penyihir dan roh jahat.

IDENTIFIKASI VAMPIRE

Banyak ritual dilakukan dilakukan untuk mengidentifikasi seorang vampire. Salah satu cara mencari kuburan vampire adalah dengan menggunakan anak perawan yang menunggangi kuda perawan dan berjalan di pemakaman. Menurut kepercayaan, kuda tersebut akan menolak melewati makam vampire. Umumnya yang dipakai adalah kuda hitam meskipun di Albania yang digunakan adalah kuda putih. Selain itu, lubang di atas makam dipercaya sebagai tanda vampire.

Mayat yang dicurigai sebagai vampire biasanya digambarkan memiliki penampilan yang lebih bagus dari yang seharusnya dan tidak menampakkan tanda-tanda pembusukkan. Dalam beberapa kasus, ketika kuburan seorang vampire dibuka, mayat tersebut berlumuran darah korban di wajahnya. Bukti bahwa seorang vampire aktif di suatu daerah ditandai dengan kematian ternak, domba, sanak keluarga atau tetangga.

PERLINDUNGAN DARI BAHAYA VAMPIRE

Benda-benda tertentu bisa digunakan untuk melawan vampire. Bawang putih dan air suci sangat umum dalam cerita vampire. Setiap daerah memiliki benda pengusir vampire tersendiri. Di Eropa, biji sesawi yang ditaburkan di atap rumah dipercaya dapat menjauhkan dari vampire. Benda suci lainnya adalah salib, rosario, dan air suci. Vampire dikatakan tidak bisa masuk ke tempat suci seperti gereja atau kuil, vampire juga tidak bisa melewati air. Meskipun secara tradisional tidak dianggap sebagai benda keramat, cermin digunakan untuk mengusir vampire dengan cara ditempatkan di depan pintu.

CARA UNTUK MENGHANCURKAN VAMPIRE

Cara yang digunakan untuk membunuh vampire sangat bervarisi dan sebagian besar berasal dari budaya Slavia selatan. Di Rusia dan negara-negara Baltik, digunakan tanaman Ash , di Serbia digunakan tanaman Hawthorn , dan ekdi Silesia. Vampire yang menjadi sasaran ditusuk di bagian jantungnya, meskipun di Rusia dan Jerman utara yang diserang adalah mulutnya sedangkan di bagian timur laut Serbia yang menjadi sasaran adalah perutnya. Menusuk dada vampire adalah suatu cara untuk “mengempiskan” vampire; Cara ini serupa dengan mengubur benda tajam seperti arit sehingga vampire akan tertusuk benda tersebut ketika vampire tersebut membengkak. Pemenggalan sering dilakukan di Jerman dan daerah Slavia barat dengan kepala sang vampire dikubur terpisah dari tubuhnya. Cara ini dilakukan untuk mempercepat perginya roh dari tubuh. Kepala, tubuh, dan pakaian vampire juga dipaku ke tanah agar vampire tersebut tidak bisa bangkit lagi.

Orang-orang Gipsi memasukan besi atau jarum ke dalam jantung mayat dan memasang besi di mulut, mata, telinga, dan jari-jari mayat ketika penguburan. Mereka juga memasukan tanaman Hawthorn ke dalam kaus kaki mayat. Cara-cara yang lainnya adalah dengan menuangkan air mendidih di atas makam atau membakar mayat sampai menjadi abu.

Di Balkan, vampire juga bisa dibunuh dengan ditembak, ditenggelamkan, diulangi penguburannya, diperciki air suci, atau dengan eksorsisme. Di Rumania, bawang putih ditaruh di mulut mayat dan pada abad ke-19 dilakukan penembakan pada peti mati untuk mencegah munculnya vampire. Dalam kasus tertentu, tubuh vampire dipotong-potong dan dibakar. Di daerah Sakson di Jerman, buah lemon ditaruh di mulut mayat yang dicurigai sebagai vampire.

KEPERCAYAAN KUNO

Cerita mengenai makhluk supernatural yang memakan darah dan daging manusia ada di hampir semua kebudayaan di seluruh dunia selama berabad-abad. Pada masa kuno belum ada istilah vampire dan makhluk yang meminum darah dianggap sebagai setan atau iblis. Di India ada cerita mengenai vetala , setan kubur yang tinggal dalam mayat. Pishacha , roh orang jahat atau orang gila juga memiliki ciri-ciri mirip vampire. Dewi India Kali , dengan taring dan kalung tengkorak, dihubungkan dengan kegiatan minum darah. Di Mesir kuno, dewi Sekhmet juga meminum darah.

Bangsa Persia adalah salah satu bangsa pertama yang menceritakan mengenai setan penghisap darah. Ditemukan gambar-gambar makhluk yang mencoba menghisap darah manusia pada pecahan-pecahan tembikar Persia kuno. Sedangkan Babylonia dan Assyria kuno memiliki cerita tentang Lilitu .

Yunani dan Romawi kuno menceritakan tentang Empusa, Lamia, dan Striga. Empusa adalah anak dewi Hekate yang digambarkan sebagai setan yang menghisap darah para pria, Lamia adalah monster yang menghisap darah anak-anak. Dan Striga memangsa anak-anak dan pria muda. Striga digambarkan memiliki tubuh burung atau gagak dan diadaptasi oleh orang Romawi menjadi strix , burung penghisap darah manusia.

CERITA RAKYAT EROPA ABAD PERTENGAHAN

Banyak mitos tentang vampire berasal dari Abad pertengahan. Sejarawan Inggris abad ke-12, Walter Map dan William dari Newburgh, pada masa itu mencatat adanya kepercayaan tentang mayat hidup meskipun catatan tentang legenda tentang vampire di Inggris setelah masa tersebut tidaklah banyak. Kisah-kisah ini mirip dengan cerita yang nantinya muncul di Eropa Timur di akhir abad ke-17 dan 18 dan merupakan dasar bagi legenda vampire di Inggris dan Jerman.

Salah satu catatan paling awal mengenai kegiatan vampire berasal dari wilayah Istria, Kroasia modern, pada tahun 1672. Laporan lokal menyatakan bahwa ada seorang vampire bernama Guire Grando dari desa Khring dekat Tinjan yang menyebabkan kepanikan masyarakat.

Seorang mantan petani bernama Guire meninggal pada tahun 1656 namun penduduk desa setempat menyatakan ia kembali dari kematiannya dan meminum darah orang-orang serta melakukan pelecehan seksual pada istrinya. Pemimpin desa kemudian memerintahkan jantungnya ditusuk tetapi gagal. Dia akhirnya benar-benar mati setelah dipenggal.

Pada abad ke-18, ada kehebohan tentang dilihatnya seorang vampire di Eropa Timur yang menyebabkan dilakukannya penggalian kuburan dan penusukan mayat yang diduga sebagai vampire. bahkan pegawai pemerintahan ikut memburu dan menusuk vampire. Meskipun disebut Abad pencerahan karena pada masa tersebut banyak kepercayaan dan legenda yang tak lagi dipercaya, tetapi kepercayaan tentang vampire malah meningkat dan mampu menimbulkan kepanikan massal di berbagai daerah di Eropa.

Kepanikan tersebut dimulai dengan dugaan adanya serangan vampire di Prusia Timur pada tahun 1721 dan di Monarki Habsburg dari tahun 1725 sampai 1734, yang kemudian menyebar ke daerah-daerah lokal lain. Dua kisah vampire yang terkenal melibatkan jenazah Peter Plogojowitz dan Arnold Paole dari Serbia. Plogojowitz dilaporkan meninggal pada usia 65 tahun tetapi diduga bangkit kembali dan meminta makanan pada putranya. Ketika putranya menolak, dia ditemukan telah mati keesokan harinya. Plogojowitz juga diduga menyerang beberapa penduduk lain karena ada beberapa orang yang kemudian mati karena kehabisan darah.

Pada kasus lain, Arnold Paole, seorang petani yang diduga digigit oleh vampire beberapa tahun sebelumnya, meninggal ketika sedang memotong jerami. Setelah kematiannya, penduduk di sekitarnya mulai mati satu per satu dan dipercaya bahwa Paole telah kembali dari kematiannya dan memangsa mereka.

Cerita terkenal lainnya melibatkan vampire Serbia yang dipercaya tinggal di tempat penggilingan dan memangsa para pekerja di tempat tersebut. Kisah ini diangkat oleh penulis Serbia bernama Milovan Glišić dan juga menjadi film horor tahun 1973 berjudul Leptirica. Dua insiden tersebut didokumentasikan dengan baik: Pegawai pemerintah memeriksa jenazah, menulis laporan, dan menerbitkan buku ke seluruh Eropa tentang kejadian tersebut.

Kepanikan msyarakat, yang disebut sebagai “Kontroversi abad ke-18”, terjadi selama satu generasi. Hal tersebut semakin meningkat karena ditambah dengan banyaknya klaim penyerangan oleh vampire di pedesaan, yang disebabkan tingginya kepercayaan masyarakat pada takhayul. Karena ketakutan, banyak kuburan yang digali kembali dan jenazahnya ditusuk.

395px-%22le_vampire%22.jpg
“The Vampire”, lithograph by R. de Moraine (1864). From: Féval, Paul-Henri-Corentin. (1864) “Les Tribunaux Secrets.” Paris: Boulanger et LeGrand. Vol. 2, p. 112.

Banyak cendekiawan yang menyatakan bahwa vampire tidaklah nyata (dan mengklaim bahwa yang terjadi adalah penguburan prematur dan rabies) tetapi kepercayaan vampire tetap meningkat.

Dom Augustine Calmet , teolog dan cendekiawan Perancis yang dihormati, pada tahun 1746 membuat risalah yang komprehensif mengenai keberadaan vampire. Dalam risalah tersebut, Calmet memperlihatkan banyak laporan insiden tentang vampire. Risalah tersebut dikritik oleh Voltaire tetapi mendapat banyak dukungan dari para demonolog (ahli setan). Para pembacanya berkesimpulan bahwa risalah tersebut merupakan klaim Calmet bahwa vampire adalah nyata.

Kaisar Maria Theresia dari Austria mengirim dokter pribadinya, Gerard van Swieten , untuk menyelidiki tentang keberadaan vampire. Gerard menyimpulkan bahwa vampire tidak nyata sehingga sang kaisar mengesahkan hukum yang melarang pembongkaran kuburan dan penodaan jenazah. Hukum ini berhasil menghentikan epidemik vampire. Meskipun begitu, vampire tetap hidup dalam karya seni dan cerita rakyat.

KEPERCAYAAN ORANG-ORANG AFRIKA

Berbagai daerah di Afrika memiliki kisah-kisah mengenai makhluk yang memiliki kemampuan seperti vampire : di Afrika Barat suku Ashanti memiliki cerita mengenai makhluk bernama asanbosam yang bergigi besi dan tinggal di pepohonan, lalu ada suku Ewe dengan kisah adze , makhluk yang bisa berubah menjadi kunang-kunang dan menyerang anak-anak.

Di daerah Tanjung timur terdapat kepercayaan tentang impundulu , yang berbentuk burung bercakar besar dan bisa mengeluarkan petir, dan suku Betsileo di Madagaskar menceritakan tentang ramanga , vampire yang meminum darah dan memakan kuku para bangsawan.

KEPERCAYAAN ORANG-ORANG AMERIKA

Loogaroo adalah sebuah contoh bagaimana kepercayaan tentang vampire bisa muncul dari pencampuran beberapa kepercayaan, dalam kasus ini terjadi penggabungan bahasa Prancis dengan Vodu atau voodoo dari Afrika. Istilah Loogaroo kemungkinan berasal dari bahasa Prancis oup-garou(“manusia serigala”) dan cukup umum dalam kebudayaan Mauritius.

Tetapi, kisah Loogaroo menyebar melalui Kepulauan Karibia dan Louisiana. Monster lainnya yang serupa adalah monster perempuan bernama Soucouyant dari Trinidad, dan Tunda serta Patasola dalam cerita rakyat Kolombia, sementara suku Mapuchedi Chili selatan mengenal ular pengisap darah yang disebut Peuchen . Dalam kepercayaan Amerika Selatan, lidah buaya yang digantung di dekat pintu dipercaya dapat mengusir makhluk vampir.

Mitologi Aztec menceritakan kisah Cihuateteo , roh berwajah tengkorak yang tercipta dari orang yang meninggal saat melahirkan, hantu ini dipercaya mencuri anak-anak dan bisa berhubungan seksual dengan orang hidup.

Pada akhir abad ke-18 dan 19, kepercayaan vampire meluas di sebagian New England, khususnya di Rhode Island dan Connecticut Timur. Ada banyak dokumentasi mengenai keluarga yang menggali makam kerabat mereka dan mengambil jantung mayat dalam makam tersebut untuk menghindari munculnya vampire, meskipun istilah “vampire” sebetulnya belum digunakan.

Penyakit mematikan seperti tuberkulosis, atau yang ketika itu disebut “sakit paru-paru”, dipercaya menjadi penyebab orang-orang membongkar kembali makam kerabat mereka yang juga meninggal karena sakit paru-paru. Kasus yang paling terkenal dan terdokumentasikan adalah Mercy Brown , gadis berusia 19 tahun yang meninggal di Exeter, Rhode Island pada 1892 dan diduga menjadi vampire. Ayahnya, dengan dibantu oleh paranormal keluarga, menggali makamnya dua bulan setelah kematiannya, mengambil jantungnya dan membakarnya sampai menjadi abu.

KEPERCAYAAN ORANG-ORANG ASIA

Berakar dari cerita rakyat, kepercayaan modern mengenai vampire menyebar di seantero Asia mulai dari setan kubur di benua Asia sampai makhluk mirip vampire dari kepulauan Asia Tenggara. Di India juga berkembang legenda lainnya mengenai vampire. Bhūta atau Prét adalah jiwa dari manusia yang mati mendadak.

Bhuta berkeliaran pada malam hari dan menyerang orang hidup. Di India Utara, ada BrahmarākŞhasa , makhluk mirip vampire dengan kepala diselubungi usus dan meminum darah. Di Jepang ada Nukekubi yang kepalanya bisa lepas dan terbang untuk mencari mangsa manusia.

Legenda hantu perempuan seperti vampire yang bisa melepaskan bagian atas tubuh mereka juga ada di Filipina, Malaysia, dan Indonesia. Ada dua makhluk mirip vampire yang utama di Filipina: bangsa Tagalog mengenal mandurugo(“pengisap darah”) sedangkan bangsa Visayas mengenal manananggal(“pemisah diri”) . Mandurugo adalah variasi dari aswang yang berwujud sebagai seorang gadis cantik di siang hari, dan bersayap serta berlidah panjang di malam hari. Lidah tersebut digunakan untuk mengisap darah dari orang yang sedang tidur.

Sementara Manananggal digambarkan sebagai hantu perempuan tua cantik yang mampu melepaskan tubuh bagian atasnya untuk terbang dengan sayap seperti kelelawar dan memangsa para wanita hamil yang sedang tidur. Mereka menggunakan lidahnya yang memanjang untuk mengisap janin dari para wanita hamil. Mereka juga suka memangsa isi perut (terutama jantung dan hati serta dahak dari orang yang sakit).

manananggal_of_philippine_mythology_commons.jpg
Manananggal.

Penanggalan di Malaysia adalah perempuan cantik yang memperoleh kecantikannya melalui ilmu hitam dan digambarkan dalam cerita rakyat sebagai hantu yang menakutkan. Dia mampu melepaskan kepalanya yang bertaring dan terbang di malam hari untuk mengisap darah, terutama dari wanita hamil. Orang-orang Malaysia biasanya menggantung jeruju(semacam tanaman berduri) di dekat pintu atau jendela untuk menjauhkan Penanggalan dari rumah mereka.

Di Indonesia, ada cerita mengenai Leak , makhluk mirip vampire yang berasal dari Bali dan memangsa janin. Selain itu, ada juga Kuntilanak , hantu dari perempuan yang mati ketika melahirkan, di Malaysia dikenal sebagai Langsuir .

Jiang Shi (bermakna “mayat kaku”, kadang-kadang oleh orang barat disebut sebagai “vampire Cina”) adalah mayat hidup yang melompat-lompat dan membunuh makhkluk hidup dengan menyerap qì(unsur kehidupan) dari korbannya. Mereka tercipta ketika jiwa seseorang (魄pò) gagal meninggalkan tubuhnya yang telah mati.

Tetapi beberapa orang menolak jika jiang shi disamakan dengan vampire karena jiang shi biasanya adalah makhluk tanpa akal pikiran. Salah satu ciri khas makhluk ini adalah kulitnya yang berwanya putih kehijauan, kemungkinan disebabkan oleh jamur dan kapang yang tumbuh di badan mayat.

KEPERCAYAAN MODERN

Dalam fiksi modern, vampire digambarkan sebagai makhluk jahat yang sopan dan kharismatik. Meskipun sebagian besar orang tidak mempercayai vampire, ada beberapa penampakan vampire yang dilaporkan pernah terjadi. Beberapa kelompok pemburu vampire bahkan masih ada, meskipun kebanyakan dibentuk untuk tujuan pergaulan.

Ada klaim mengenai serangan vampire di Malawi pada akhir tahun 2002 dan awal 2003. Ketika itu, segerombolan orang membunuh satu orang serta melukai setidaknya empat lainnya (termasuk Gubernur Eric Chiwaya) atas dugaan bahwa pemerintah bekerjasama dengan vampir.

Pada awal tahun 1970 pers lokal menyebar rumor adanya vampire yang menghantui Pemakaman Highgate di London. Banyak pemburu amatir yang datang ke tempat itu dan mencoba memburu vampire tersebut. Banyak muncul buku tentang kasus itu, salah satunya ditulis oleh Sean Manchester, salah seorang penduduk lokal. Dia adalah salah satu yang pertama kali menyatakan keberadaan “Vampire Highgate” dan dia mengaku telah mengusir para vampire serta menghancurkan sarang vampire di area tersebut.

Pada Januari 2005, ada rumor yang berkembang tentang beberapa orang yang digigit di Birmingham, Inggris. Hal tersebut menimbulkan ketakutan adanya vampire yang berkeliaran. Tetapi kepolisian setempat menyatakan bahwa tidak ada laporan mengenai kasus tersebut dan kejadian itu hanyalah takhayul.

Pada tahun 2006, seorang profesor Fisika di University of Central Florida menulis sebuah makalah ilmiah yang menyatakan bahwa secara matematis vampire tidak mungkin nyata berdasarkan deret ukur. Menurutnya, jika vampire pertama muncul pada 1 Januari 1600, dan menggigit satu orang dalam sebulan, dan setiap korban berubah menjadi vampir, maka dalam waktu dua setengah tahun, seluruh populasi manusia akan menjadi vampire.

Pada masa modern, chupacabra(“pengisap-kambing”) dari Puerto Rico dan Mexico disebut sebagai makhluk yang memakan daging dan meminum darah hewan peliharaan sehingga kadang-kadang disebut sebagai sejenis vampire. “Histeria chupacabra” sering diasosiasikan dengan krisis ekonomi dan politik pada pertengahan 1990-an.

chupacabras-dog-001.jpg
Chupacabra.

Di Eropa sendiri, yang merupakan tempat asal dari banyak cerita vampire, pada umumnya vampire dianggap tidak nyata, meskipun di lokasi-lokasi tertentu kepercayaan tentang vampire masih ada dan beberapa penampakan vampire masih terjadi. Di Rumania pada Februari 2004, beberapa kerabat dari Toma Petre takut dia telah menjadi vampier. Mereka menggali makamnya, mengambil jantungnya lalu membakarnya sampai menjadi abu, dan meminum air yang dicampur dengan abu tersebut.

Pada bulan Maret 2009 sebuah kerangka perempuan dengan batu bata di mulutnya ditemukan di Venice, Italia. Matteo Borrini dari Universitas Florence menemukan kerangka itu dalam penggaliannya pada kuburan massal korban wabah dari abad ke-16. Para arkeolog mengatakan bahwa ini adalah ritual pembunuhan vampire.

SPIRITUALISME SLAVIA

Banyak teori tentang asal-usul kepercayaan vampire telah diajukan untuk menjelaskan takhayul, dan histeria massal yang disebabkan oleh vampire. Mulai dari Pemakaman dini sampai ketidaktahuan mengenai siklus pembusukan tubuh setelah kematian disebut-sebut sebagai penyebab kepercayaan vampire.

Vampire Slavia merupakan cerita hantu yang mendasari konsep vampire dalam budaya populer. Kepercayaan vampire dalam budaya Slavia berakar dari kepercayaan spiritual yang dipraktikkan secara luas sebelum masuknya agama Kristen, juga dipengaruhi oleh pemahaman mereka tentang kehidupan setelah mati. Meskipun tidak banyak tulisan dari masa pra-kristen yang menceritakan “Agama Lama”, banyak orang Slavia yang tetap meneruskan kepercayaan pagan bahkan setelah daerah mereka dikristenkan. Beberapa contohnya adalah pemujaan leluhur, roh yang menghuni rumah, dan kepercayaan tentang arwah setelah mati.

Dalam masyarakat Slavia pra-industri, setan dan roh dipercaya berperan dalam kehidupan manusia. Beberapa roh ikut membantu manusia sementara yang lainnya mengganggu manusia. Contohnya adalah Domovoi, Rusalka, Vila, Kikimora, Poludnitsa, dan Vodyanoy . Roh-roh ini juga dianngap berasal dari leluhur atau mansuia tertentu yang telah mati. Roh-roh itu bisa muncul dalam berbagai wujud, termasuk wujud manusia dan berbagai jenis hewan. Beberapa roh juga bisa melakukan sesuatu untuk melukai manusia, misalnya menenggelamkan orang, menghalangi panen, atau mengisap darah makhluk hidup dan kadang-kadang manusia. Oleh kerena itu, orang-orang Slavia biasanya berusaha untuk tidak membuat roh-roh itu marah supaya tidak diganggu.

Kepercayaan Slavia sangat membedakan arwah dan tubuh. Arwah tidak langsung musnah begitu tubuh seseorang mati, tetapi akan keluar dan bergentayangan di lingkungan rumah dan tempat kerjanya selama 40 hari sebelum akhirnya pergi ke dunia lain. Oleh karena itu, pada masa-masa tersebut jendela atau pintu bisanya dibuka untuk memudahkan arwah keluar. Dalam masa 40 harinya, arwah bisa membawa keberkahan atau bahkan kejahatan pada lingkunannya. Selain itu arwah juga bisa memasuki mayat orang lain.

Kematian seorang anak yang belum di baptis, korban pembunuhan sadis, atau seorang pendosa (pembunuh atau dukun) dipercaya menghasilkan arwah yang tidak bersih. Arwah juga bisa menjadi tidak bersih jika jenazahnya tidak diberikan pemakaman yang layak. Selain itu, jenazah yang tidak dikuburkan dengan layak, juga bisa dimasuki oleh arwah lain yang tidak bersih. Arwah yang tidak bersih sangat ditakuti oleh orang Slavia karena bisa melakukan balas dendam.

Kepercayaan Slavia mengenai kematian dan arwah tersebut menjadi cikal-bakal dari konsep vampire. Vampire merupakan mayat yang dikuasai oleh arwah yang tidak bersih sehingga menjadi mayat hidup. Mayat hidup ini dianggap jahat dan membutuhkan darah makhluk hidup untuk meneruskan eksistensinya. Walaupun konsep vampire ini ada sedikit penyimpangan di negara-negara Slavia dan beberapa negara tetangga mereka, sangat mungkin bahwa kepercayaan vampire berasal dari spiritualisme Slavia sejak masa pra-Kristen.

TEORI PEMBUSUKAN MENURUT PATHOLOGIST

Paul Barber dalam bukunya Vampires, Burial and Death menjelaskan bahwa cerita vampire berasal dari masyarakat pra-industri, yang tidak memahami secara benar mengenai proses kematian dan pembusukan tubuh manusia. Tingkat pembusukan bervariasi tergantung pada suhu dan komposisi tanah, dan banyak dari tanda-tanda itu tidak diketahui oleh orang-orang pada masa itu. Hal ini membuat orang-orang berpikir bahwa jika suatu mayat tidak membusuk sama sekali atau tidak menampakkan tanda-tanda pembusukan maka mayat itu adalah vampire.

Mayat membengkak akibat dari gas hasil pembusukan yang terakumulasi dalam tubuh, dan tekanan yang tinggi menyebabkan darah keluar dari hidung dan mulut. Ini menjadikan mayat terlihat “gemuk” dan berwarna “merah”. Dulu, mayat seperti inilah yang dituduh sebagai vampire, apalagi jika semasa hidupnya orang tersebut berbadan kurus atau pucat. Dalam kasus Arnold Paole, mayat seorang perempuan tua digali dan menurut tetangganya, mayat itu terlihat lebih gemuk dan sehat daripada ketika masih hidup.

Darah yang keluar dari mayat memberi kesan bahwa mayat itu sudah melakukan kegiatan vampire (mengisap darah). Kulit yang menjadi gelap juga disebabkan oleh pembusukan. Penusukan suatu mayat yang membusuk akan menyebabkan gas yang terakumulasi dalam tubuh mayat menjadi keluar. Ketika gas melewati pita suara, akan terdengar suara seperti erangan. Hal ini semakin meningkatkan takhayul vampire.

Setelah meninggal, kulit dan gusi kehilangan cairan dan mengkerut, sehingga akar rambut, kuku, dan bahkan gigi yang tersembunyi dalam rahang menjadi terlihat. Ini memicu kepercayaan bahwa rambut, kuku, dan gigi masih tumbuh. Pada tahap tertentu, kuku dan kulit mayat akan terlepas, seperti dilaporkan dalam kasus Plogojowitz—kulit dan kuku yang berada di balik lapisan yang terkelupas dianggap sebagai “kulit dan kuku baru”.

TEORI PENGUNBURAN DINI

Ada pendapat bahwa legenda vampire dipengaruhi oleh penguburan dini, yaitu proses penguburan orang-orang yang masih hidup. Dulu, ketika pengetahuan medis belum terlalu berkembang, beberapa orang yang masih hidup dikira telah meninggal dan akhirnya dikubur hidup-hidup. Dalam beberapa kasus, orang-orang melaporkan adanya suara dari dalam peti mati, ketika kuburannya digali, ditemukan adanya bekas kuku pada peti mati, menunjukkan bahwa orang di dalamnya berusaha untuk keluar.

Dalam kasus lainnya, korban penguburan dini akan berusaha keluar dengan cara membenturkan kepala, wajah, atau hidung mereka sampai berdarah dan itu akan membuat mereka tampak seperti telah mengisap darah. Yang menjadi masalah dari teori ini adalah bagaimana para korban penguburan dini bisa bertahan hidup dalam jangka waktu tertentu tanpa makanan, air, dan udara yang cukup. Penjelasan alternatif lainnya untuk suara dari dalam kubur adalah gelembung gas yang dihasilkan oleh proses pembusukan alami. Sementara penyebab lainnya dari makam yang acak-acakan adalah perampokan makam.

TEORI INFEKSI

Cerita vampire telah dikaitkan dengan kematian yang disebabkan oleh penyakit yang misterius dan tidak diketahui, biasanya yang terjadi dalam suatu keluarga atau komunitas kecil. Epidemi jelas terjadi dalam kasus Peter Plogojowitz dan Arnold Paole, dan bahkan dalam kasus Mercy Brown serta dalam kepercayaan New Englands Vampire , yaitu ketika suatu penyakit tertentu, tuberkulosis, diasosiasikan dengan munculnya vampirisme. Seperti juga penyakit pes yang menyebabkan rusaknya jaringan paru-paru sehingga darah mengalir di bibir.

TEORI BIOKIMIA: PENYAKIT PORFIRIA

Pada tahun 1985, seorang biokimiawan David Dolphin mengajukan sebuah pendapat mengenai kaitan antara penyakit porfiria dengan cerita vampire. Kondisi porfiria dikendalikan oleh heme, sehingga David berpendapat bahwa konsumsi darah dalam jumlah besar bisa mengakibatkan heme entah bagaimana melewati dinding perut dan bergerak menuju aliran darah. Jadi menurutnya vampire hanyalah penderita porfiria yang berusaha mencari heme pengganti untuk meringankan gejalanya.

Teori ini telah ditolak secara medis karena pendapat bahwa penderita porfiria membutuhkan heme dalam darah, atau bahwa konsumsi darah dapat mengurangi gejala porfiria, didasarkan pada kesalahpahaman tentang penyakit itu. Selain itu, Davis sendiri sebenarnya bingung dalam membedakan antara vampire dalam fiksi (pengisap darah) dengan vampire dalam cerita rakyat, yang banyak di antaranya tidak meminum darah.

Penyakit itu juga dikaitkan dengan kepekaan vampire terhadap cahaya, namun sifat vampire yang takut cahaya berasal dari fiksi bukan cerita rakyat. David tidak mengedarkan temuannya lebih lanjut. Meskipun ditolak oleh para ahli, teori itu mendapat perhatian dari media dan menjadi cerita yang populer.

TEORI PENYAKIT RABIES

Rabies juga dikaitkan dengan cerita vampire. Dr.Juan Gómez-Alonso , seorang neurolog di rumah sakit Xeral di Vigo, Spanyol, mengungkapkan kemungkinan tersebut dalam sebuah laporan di jurnal Neurology.Kelemahan terhadap bawang putih dan cahaya bisa disebabkan oleh hipersensitivitas, yang merupakan gejala rabies. Penyakit ini juga bisa memengaruhi sebagian otak dan berujung pada gangguan pola tidur (sehingga menjadi nokturnal) dan hiperseksualitas. Menurut legenda, seseorang tidak menderita rabies jika bisa melihat bayangannya sendiri di cermin (sebuah kiasan dari legenda bahwa vampire tak punya bayangan). Serigala dan kelelawar, yang sering diasosiasikan dengan vampire, bisa menjadi pembawa rabies. Penyakit ini juga bisa memicu penderitanya menggigit orang lain dan membuat mulutnya berbuih darah.

TEORI PSIKODINAMIS

Dalam risalah pada tahun 1931 yang berjudul On the Nightmare , seorang psikoanalis asal Wales, Ernest Jones, menyatakan bahwa vampire merupakan simbol dari tindakan tidak sadar dan mekansime pertahanan diri. Cinta, rasa bersalah, dan kebencian adalah emosi yang memicu gagasan mengenai kebangkitan mayat dari dalam kubur. Karena kerabat yang disayangi telah meninggal, banyak orang yang mungkin membayangkan bahwa almarhum juga pasti merindukannya. Dari hal ini munculah kepercayaan bahwa vampire dan mayat hidup mengujungi kerabatnya, terutama istri atau suami.

Ernest Jones menduga dalam kasus ini harapan awal yang berupa reuni (seksual) secara drastis digantikan oleh rasa takut; Cinta digantikan oleh kekejaman, dan sosok yang disayangi berganti menjadi sosok yang tak dikenal. Aspek seksual bisa muncul dan bisa juga tidak.

Namun dalam kasus ketika ada rasa bersalah yang dikaitkan dengan suatu hubungan, keinginan untuk reuni kemungkinan digerogoti oleh kecemasan. Ini akan berujung pada represi, yang oleh Sigmund Freud dihubungkan dengan ketakutan yang tidak wajar.

Beberapa kritikus modern mengajukan sebuah teori yang lebih sederhana: Cerita mengenai vampire yang abadi muncul dari pikiran orang-orang yang takut akan kematian. Dengan membayangkan ada suatu makhluk abadi, mereka setidaknya untuk sementara lepas dari rasa takut itu.

Aspek seksualitas dari proses pengisapan darah dapat dilihat dalam kaitan dengan kanibalisme dan incubus. Banyak legenda menceritakan berbagai makhluk yang mengisap cairan tubuh korbannya, dan mungkin ada hubungannya dengan air mani. Ernest Jones menyebutkan bahwa ketika aspek seksualitas yang normal tertekan, bentuk yang lebih rendah bisa saja muncul, khususnya kekejaman; dia merasa kekejaman pada mulut adalah bagian dari perilaku vampire.

TEORI PENAFSIRAN POLITIK

Penciptaan kembali mitos vampire pada masa modern terjadi dengan adanya nuansa politik. Count Dracula yang aristokrat, sendirian di kastilnya dengan ditemani beberapa pengikut gila, dan hanya muncul pada malam hari untuk memangsa penduduk desa, merupakan simbol dari rezim kuno yang bagaikan parasit.

TEORI PSIKOPATOLOGI

Sejumlah pembunuh melakukan ritual seperti vampire terhadap korbannya. Pembunuh berantai Peter Kürten dan Richard Trenton Chase disebut sebagai “para vampire” di tabloid setelah mereka diketahui meminum darah orang-orang yang mereka bunuh. Pada tahun 1932, sebuah kasus pembunuhan yang tak terpecahkan di Stockholm, Swedia disebut ” pembunuhan oleh Vampire”, karena kondisi kematian dari korban-korbannya.

KELELAWAR VAMPIRE

vampirebat.jpg
Kelelawar vampire di Peru, meskipun hewan ini sudah diceritakan dalam beberapa kebudayaan, tapi kelelawar vampire menjadi bagian dalam cerita vampire baru-baru ini.

Kelelawar vampire mulai dimasukkan dalam cerita vampire ketika hewan ini ditemukan di daratan Amerika Selatan pada abad ke-16.Walaupun tidak ada kelelawar vampire di Eropa, kelelawar dan burung hantu telah sejak lama diasosiasikan dengan pertanda nasib dan supernatural, terutama disebabkan oleh perilaku mereka yang aktif pada malam hari, dan dalam simbolisme Inggris, kelelawar bermakna “Kesadaran atas kekuasaan kegelapan dan kekacauan”.

Dari tiga spesies kelelawar vampir, semuanya merupakan endemi di Amerika Latin, dan tak ada bukti yang menunjukkan bahwa hewan ini pernah punya kaitan dengan Dunia Lama sehingga hampir tidak mungkin bahwa cerita vampire berasal dari kelelawar vampire. Kelelawar ini dinamai berdasarkan cerita vampire dan bukan sebaliknya.

Oxford English Dictionary mencatat bahwa keterlibatan kelelawar vampire dalam cerita vampire di Inggris dimulai sejak 1734. Walaupun gigitan kelelawar vampire biasanya tidak berbahaya bagi manusia, hewan ini diketahui sering menyerang ternak dan bahkan manusia, dan seringkali meninggalkan tanda berupa dua bekas gigitan di kulit korbannya.

Sumber:
id.wikipedia.org

Iklan

Tentang Bams al-Badrany

Me is me
Pos ini dipublikasikan di Encyclopedia Of Magical Creatures dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s