Natural History Of Unicorns: Sejarah Tentang Kuda Bertanduk Satu

magical creatures.jpg
Sejarah tentang Unicorn
unicorn.jpeg

Unicorn adalah makhluk dalam legenda yang wujudnya merupakan kuda dengan sebuah tanduk di dahinya (cornus=bahasa Latin, dihubungkan dengan kata “horn” yang berarti tanduk). Biasanya bulu Unicorn berwarna putih dan tanduknya berbentuk spiral. Makhluk ini juga sering digambarkan punya kemampuan magis. Tanduknya bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Bahkan jika kita bisa memiliki sebagian kecil saja dari tanduk unicorn, kita bisa hidup abadi. Unicorn juga bisa mengetahui ketika seseorang berbohong kepadanya. Tidak heran jika dipercaya hanya orang berhati bersih dan jujur saja yang bisa melihat unicorn.

unicorn-001.jpg

Walaupun dikatakan sebagai hewan yang hanya ada dalam mitologi, sebagian orang tetap percaya adanya unicorn karena beberapa bukti kuat yang mendukungnya. Misalnya saja lukisan gua bergambar unicorn yang ditemukan di Lascaux , Perancis bertanggal sekitar 15.000 SM. Namun karena tidak ada bukti fosil atau artifak lainnya, para arkeolog tetap tidak percaya jika unicorn pernah ada.

Ilmu pengetahuan modern memang mencatat kalau makhluk seperti itu tidak pernah ada. Namun ada catatan-catatan masa lampau yang sepertinya menunjukkan kalau makhluk misterius ini mungkin pernah hidup di beberapa bagian dunia. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa para penulis Yunani kuno yang pernah menyinggung mengenai makhluk ini seluruhnya beranggapan kalau makhluk ini benar-benar ada, tepatnya di India.

Catatan paling awal tentang unicorn dalam sastra Barat adalah milik sejarawan Yunani Ctesias . Pada abad ke-5 SM, dia menulis makhluk itu memiliki tubuh putih, kepala ungu, mata biru, dan tanduk warna-warni; merah pada ujungnya, hitam di tengah, dan putih di dasarnya. Ctesias juga yang pertama kali melaporkan kalau tanduk Unicorn bisa digunakan untuk menetralisir racun.

Ctesias mendeskripsikan makhluk itu sebagai berikut: “Unicorn adalah makhluk asli India. Ukurannya sebesar keledai dengan kepala berwarna ungu kemerahan. Tubuhnya berwarna putih, matanya berwarna biru dengan sebuah tanduk muncul dari dahinya. Ujung tanduk itu berwarna merah terang, tengahnya berwarna hitam dan putih di pangkalnya. Panjangnya kira-kira 18 inci”

Hal ini mengkonfirmasikan penemuan stempel Mohenjo Daro dan Harappa di India. Pada stempel berusia 2.500 tahun yang ditemukan di Mohenjo Daro dan Harappa ini, kita dapat melihat bentuk kuno dari seekor Unicorn beserta inskripsi yang masih belum terpecahkan.

indusvalleyseals-002.jpg
Obyek pertama yang digali dari Harappa dan Mohenjo Daro, situs utama dari Peradaban Lembah Indus, stempel batu kecil bertuliskan penggambaran hewan elegan yang mirip unicorn, dan ditandai dengan penulisan naskah Indus yang masih membingungkan para sarjana.

Ada sebuah riwayat yang menguatkan keberadaan Unicorn di India bahwa Genghis Khan dilaporkan memutuskan tak menguasai India setelah bertemu unicorn, yang membungkuk padanya, dia memandangnya sebagai tanda dari mendiang ayahnya dan memutar kembali pasukannya.

Selain India, Cina juga memiliki Unicorn-nya sendiri. Makhluk ini dikenal dengan sebutan Qilin . Di Jepang, ia dikenal dengan sebutan Kirin dan digambarkan memiliki tubuh seperti rusa, sisik berwarna hijau dan sebuah tanduk panjang di kepala.

qilin.jpg
Qilin.

Penulis lain, Strabo , juga pernah menyinggung mengenai keberadaan seekor kuda bertanduk di wilayah Caucasus . Deskripsi yang lebih lengkap kemudian diberikan oleh sejarawan Romawi, Pliny the elder . Mengenai Unicorn, Ia menulis: “Makhluk yang sangat ganas ini disebut Monoceros dan memiliki kepala seperti rusa, kaki seperti gajah, dan ekor seperti babi hutan, sementara bagian tubuhnya yang lain seperti kuda. Ia mengeluarkan suara rendah yang dalam dan memiliki satu tanduk berwarna hitam yang keluar dari tengah dahinya dengan panjang kira-kira dua cubit.”

plinyelder.jpg
Pliny The Elder.

Beberapa sejarawan mendebatkan deskripsi Pliny ini. Ada yang beranggapan kalau ia hanya mendeskripsikan seekor badak dan bukan kuda bertanduk. Namun badak sepertinya tidak “memiliki kepala seperti rusa dan bagian tubuh yang lain seperti kuda”.

Julius Caesar juga pernah menyinggung mengenai makhluk ini dengan deskripsi yang mirip dengan Pliny. Menurut Julius Caesar: “Kepalanya seperti rusa, kakinya seperti gajah, tanduknya memiliki panjang sekitar 90 cm dengan ekor menyerupai babi hutan.”

Selain Caesar, Marco Polo juga mengaku pernah bertemu dengan unicorn. Dalam perjalanannya, Marco Polo percaya ia bertemu dengan unicorn di Jawa. Dia menulis, “Mereka sangat jelek dan kasar untuk dilihat. Mereka sama sekali tak seperti bagaimana kita mendeskripsikan unicorn.” (kemungkinan yang Marco Polo lihat sebenarnya adalah badak jawa.)

Kalau sekarang kita mengenalnya sebagai kuda putih bertanduk satu dengan rambut panjang menjuntai yang cantik, dulu bentuk unicorn sedikit berbeda. Dalam legenda modern yang muncul pada Abad Pertengahan, unicorn berbentuk seperti keledai atau rusa dengan badan seperti kuda. Unicorn punya pergerakan yang sangat halus. Makanya, hewan ini bisa menembus hutan yang lebat tanpa membuat suara sedikit pun.

Dalam versi yang lebih tradisional, makhluk ini digambarkan memiliki kuku belah, janggut seperti kambing dan ekor seperti singa. Namun satu hal yang sama dari deskripsi tradisional dan modern adalah keberadaan satu tanduk di kepalanya.

Pada abad pertengahan, pengaruh Unicorn sampai ke Eropa dan mulai digunakan sebagai objek seni dan simbol-simbol kebangsawanan. Pada masa ini, karakter Unicorn telah berubah menjadi makhluk yang benar-benar menyerupai kuda seluruhnya dengan satu tanduk di kepalanya. Seiring dengan bangkitnya paham humanisme, Unicorn mendapatkan tempat tersendiri sebagai simbol cinta yang murni dan pernikahan yang setia.

Menurut legenda yang beredar di Eropa, Unicorn disebut hanya bisa ditaklukkan oleh seorang perawan. Karena itulah, para perawan seringkali digunakan sebagai umpan untuk menangkap makhluk ini di alam liar.

Dalam kepercayaan yang lebih populer, tanduk Unicorn disebut dapat menetralkan racun. Karena itu, menurut legenda, tanduknya pernah digunakan sebagai bahan pembuat gelas seremonial yang digunakan oleh keluarga kerajaan, walaupun banyak yang percaya kalau tanduk yang digunakan sebenarnya bukanlah tanduk hewan mitologi Unicorn, melainkan tanduk dari Narwhal, paus Unicorn .

narwal.jpg
Narwhal.

Pada tahun 1486, Berhanrd Von Breydenbach , seorang penatua di katedral Mainz , menceritakan sebuah kisah menarik mengenai perjumpaan dengan Unicorn. Ia menuangkannya dalam buku berjudul “Peregrinatio in Terram Sanctam” atau “Perjalanan ke tanah suci”.

Perjumpaan ini terjadi pada tahun 1483 ketika ia bersama satu rombongan beranggotakan 150 orang pergi ke timur tengah untuk melakukan ziarah rohani. Dalam perjalanan ini, mereka berangkat dari Venice menuju Jaffa, lalu ke Ramala dengan karavan. Dari situ mereka melanjutkan perjalanan ke Yerusalem dan mengunjungi semua tempat-tempat suci disitu. Setelah itu rombongan pergi menuju gurun Sinai dan mengunjungi biara Santa Catharina . Di tempat itu, salah seorang peziarah bernama Felix Fabri bersama sekelompok orang yang sedang bersamanya melihat seekor Unicorn sedang berdiri di atas bukit dekat kaki gunung Sinai . Felix bersama rombongan mengamati makhluk ini dengan seksama untuk beberapa lama. Penampakan ini terjadi pada tanggal 20 September 1483.

Pada tahun 1530, Ludovica de Bartema , seorang bangsawan Italia yang melakukan perjalanan ke Mesir, Arab dan India juga bertemu dengan makhluk misterius ini. Ketika hendak masuk ke Mekkah, ia menggunakan nama samaran Mussulman agar bisa membaur dengan rombongan karavan peziarah lainnya. Di kota itu, Bartema mengaku melihat dua ekor Unicorn. Tubuh makhluk itu berwarna kuning coklat. Kepalanya seperti rusa dengan leher dan surai yang panjang. Kakinya pendek dan memiliki kuku seperti kambing. Menurut penduduk lokal, kedua hewan itu adalah pemberian dari raja Etiopia yang hendak dipersembahkan kepada sultan Mekkah.

Kesaksian Bartema menunjukkan kalau pada masa itu, Unicorn mungkin hidup di Etiopia atau Afrika. Ini ditegaskan dengan kesaksian lain dari Don Juan Gabriel , seorang kolonel Portugis yang tinggal di Etiopia selama beberapa tahun. Menurutnya, ia pernah melihat Unicorn di propinsi Damota . Makhluk itu berukuran seperti kuda dan berwarna agak gelap. Beberapa orang portugis lainnya yang tinggal di negara itu juga melaporkan pernah melihat Unicorn sedang merumput di sebuah bukit di distrik Namna .

Pada abad yang lebih modern, laporan penampakan Unicorn diceritakan oleh seorang naturalis Swedia bernama Dr.Sparrmann . Pada tahun 1772-1776, ia melakukan penelitian di Good Hope dan menulis dalam jurnalnya mengenai seorang pria bernama Jacob Kock .

Kock yang saat itu melakukan perjalanan menuju Afrika bagian selatan menemukan batu-batuan yang berukirkan Unicorn. Batu-batu ini ternyata diukir oleh suku setempat yang bernama Hottentots . Berdasarkan wawancara Kock dengan anggota suku tersebut, diketahui kalau Unicorn sesungguhnya telah dikenal dengan baik diantara suku Hottentots. Warga suku tersebut mengatakan kalau Unicorn memiliki bentuk seperti kuda dengan satu tanduk di kepalanya. Makhluk ini juga bisa berlari dengan sangat cepat.

Kisah yang diceritakan Dr.Sparrmann kemudian mendapatkan konfirmasi dari kisah lain yang diceritakan oleh Mr.Henry Cloete pada tahun 1792 kepada akademi ilmu pengetahuan Selandia Baru. Mr.Cloete menceritakan mengenai pengalaman Gerrit Slinger , salah seorang anggota suku Hottentots yang saat sedang berperang dengan suku Bushmen , menjumpai sembilan Unicorn dan menembak salah satunya.

Menurut Slinger: “Makhluk itu menyerupai seekor kuda dengan warna abu-abu terang. Di bawah rahangnya ada garis putih. Ia juga memiliki satu tanduk yang tumbuh tepat di tengah kepalanya. Kepala makhluk ini seperti kuda dan ukurannya pun kira-kira sama.”

Walaupun mungkin tidak persis seperti gambaran yang kita miliki di buku-buku fiksi, sepertinya makhluk bertanduk satu menyerupai kuda benar-benar pernah ada di dunia! Tentu saja sebagian peneliti akan tetap menolak keberadaannya dan menganggap Unicorn hanya sebagai makhluk rekaan atau makhluk mitologi.

Namun ada sebagian peneliti yang mencoba untuk melihat dasar pembentukan kepercayaan mengenai Unicorn. Mereka percaya kalau Unicorn itu mungkin adalah makhluk yang disebut Elasmotherium , seekor badak Eurasia yang sudah punah jutaan tahun yang lalu. Walaupun diperkirakan telah punah jutaan tahun yang lalu, anehnya, di beberapa suku purba di dunia ada legenda mengenai hewan besar berambut yang berbentuk seperti sapi dengan satu tanduk besar di kepalanya. Persis seperti Elasmotherium.

elasmotherium.jpeg
Elasmotherium.

Legenda-legenda suku ini dipercaya telah menjadi dasar pembentukan legenda Unicorn modern. Namun, apakah Elasmotherium terlihat memiliki tubuh seperti kuda seperti deskripsi para penulis kuno? Sepertinya tidak. Kalau begitu mungkinkah di luar sana masih ada hewan misterius yang kita kenal dengan sebutan Unicorn? (bs22)

Tentang Bams al-Badrany

Me is me
Pos ini dipublikasikan di Encyclopedia Of Magical Creatures dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s